Share it

Tuesday, April 01, 2008

Sang Creator
cikal bakal
"Koes Plus dan

Koes Bersaudara"

Tonny Koeswoyo , koestono koeswoyo , tuban (jawa timur ) 19 januari 1936 - 27 Maret 1987 Tonny Koeswoyo atau Koestono Koeswoyo adalah pimpinan dari group Koes Plus. Tonny dapat memainkan tiga alat musik yaitu piano, gitar dan keyboard. Ia juga menciptakan lirik yag indah serta penuh makna dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh arti. Chrisye yang menyanyikan lagu ciptaan Tonny koeswoyo "Cintamu tlah Berlalu" dalam salah satu albumnya mengatakan lirik yang dibuat Tonny Koeswoyo sangat dalam dan puitis.Tahun 1962 dia mendirikan Koes Bersaudara yang anggota anggotanya adalah kakak dan adik adiknya putra Koeswoyo yaitu John Koeswoyo, Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo dan Nomo koeswoyo.Di awal tahun 1960-an group musik di Indonesia umumnya lebih bangga menyanyikan lagu asing, namun Koes bersaudara merupakan pelopor mencipta dan merekam lagu berbahasa Indonesia. Atas permintaan penonton ketika Koes Bersaudara manggung, mereka "terpaksa" membawakan lagu lagu The Beatles, Kalin Twin dan Everly Brothers yang ujung ujungnya dituduh Bung Karno sebagai penyebar Musik Ngak Ngik Ngok tak berbudaya Indonesia. Oleh karenanya mereka mendekam di Bui tanpa proses pengadilan selama 3 bulan. Sekeluar dari bui, situasi dalam penjara dipotret melalui lagu lagu Koes Bersaudara berikutnya.Di tengah situasi ekonomi sulit, Nomo Koeswoyo mengundurkan diri. Keadaan ekonomi Tonny Koeswoyo pun menurun hingga menjual radio satu satu miliknya untuk membeli becak guna menyambung nyawa. Tetapi berusaha keras eksis di bidang musik dengan merekrut Murry atau Kasmuri membentuk group musik yang diberi nama sementara FREE AND PEACE, sebelum kemudian terinspirasi dengan APC PLUS dan Koes Plus-lah nama yang dipilih untuk nama Group yang terdiri dari Tonny, Yon, Yok, dan Murry. Maestro musik yang bernama asli KOESTONO ini seperti mendapat energi baru dengan masuknya Murry, sehingga kreatifitasnya tidak terbendung dengan menampilkan irama musik yang lebih bervariasi.Walau mula mula Koes Bersaudara dan Koes Plus berkiblat musik barat, tetapi suatu waktu Tonny Koeswoyo berseru agar musisi Indonesia jangan segan menggali kekayaan seni Musik Tradisional Indonesia. Dan dia benar benar berhasil membuktikan dengan keberhasilannya meramu musiknya dengan warna lokal / tradisional Indonesia. Hingga hari ini belum kita temukan musisi sekonsitensi dia dalam beridealisme. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah album Pop Indonesia, Pop Jawa, Pop Melayu, Pop Keroncong, kemudian "diversifikasi" menjadi Album Anak-anak, Natal, Qosidah, Another Song for You (bahasa Inggris), Album In Hard Beat, Folksong.Dengan berbekal bacaan filsafat yang bersumber dari Al Qur'an, Injil, Gitanjali, Bhagawad Gita, Vivekananda, dan lain sebagainya, menyebabkan lirik lagu yang dia ciptaan memiliki bobot.Tidak hanya tema cinta yang diusung oleh Tonny Koeswoyo, tetapi merambah pada tema Ke-Tuhan-an, tema Nasionalisme, Keindahan Alam, dan lain-lain.Walaupun pada waktu itu sempat menimbulkan pendapat miring bagi pengamat musik, konsep mencipta lagu yang berlirik sederhana, dan easy listening, menjadikan lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus bertahan hingga 3 dasawarsa tidak mustahil menjadi "lagu rakyat" sepanjang masa. Intensitas bermusik yang tinggi menyebabkan raganya "terlupakan", sehingga pada tanggal 27Maret 1987 penyakit kanker usus mengakhiri hidupnya. Tonny Koeswoyo tutup usia di Jakarta pada umur 51 tahun

Monday, December 17, 2007


Plus Yang melagenda
" Drummernya yang unik "
Kasmurry, Murry
Kasmuri atau Murry adalah plus dalam Koes Plus. Dialah satu-satunya anggota Koes Plus yang bukan dari keluarga Koeswoyo. Pukulan drumnya yang khas telah memberi warna tersendiri bagi Koes Plus. Pukulan drumnya mungkin tidak akan terasa bagus kalau dia bermain dengan kelompok lain. Tetapi digabung dengan permainan keyboard Tonny Koeswoyo, pukulannya terasa istimewa.
Sebagai pemain drum dia tidak hanya pelengkap. Permainan drumnya menjadi ciri khas dari lagu-lagu Koes Plus. Mendengarkan lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara akan terasa beda begitu mendengar pukulan drumnya. Kombinasi pukulan drumnya dan permianan keyboard Tonny Koeswoyo, banyak mewarnai intro lagu Koes Plus.
Dia juga mencipta beberapa lagu yang cukup populer. Diantara lagunya adalah Pelangi, Doa Suciku, Bertemu dan Berpisah, Hidup Tanpa Cinta, Semanis Rayuanmu, Kau Bina Hidup Baru, Ayah dan Ibu, Bujangan, Pak Tani, Mobil Tua, Cobaan Hidup, Cubit-cubitan.
Murry benar-benar plus dalam artian memberi nilai plus kepada Koes. Lagu Koes Plus yang paling dia sukai adalah Tiada Kata Terlambat (vol XIV). Lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Tonny Koeswoyo. Tonny Koeswoyo sendiri hampir selalu terlibat memberi backing vocal untuk setiap lagu yang diciptakan Murry. Mungkin ini sebagai bentuk sikap perlakuan istimewa Tony sebagai pimpinan Koes Plus terhadap anggota bukan dari keluarga Koeswoyo. Dengan demikian Murry tidak merasa menjadi orang lain dalam Koes Plus

Yok Koeswoyo,Bassis dengan cirikhas Vokalnnya yang melengking.
(3 September 1944) merupakan salah satu anggota grup band Koes Plus. Yok merupakan pemain bas sekaligus backing vokal mendampingi suara Yon. Suara Yok sangat tinggi ini terbukti pada lagu - lagunya serta sangat sedih pada lagu MARIA. Maria adalah istri Yok yang meninggal karena kecelakaan pada saat mendampingi Yok menyelesaikan album bersama Koes Plus.dan kekhasaanya menciptakan lagu lagu yang bisa dikatakan memiliki banyak makna...why do you love me juga merupakan ciptaannya tembang melankolins yang di bawakan Yon K..
Vokalis Yang
Melankolis.
Koesyono koeswoyo
Penyanyi kelahiran Tuban, Jawa Timur, Jumat Legi, 27 September 1940, yang dikenal sebagai
Yon Koeswoyo
YON merupakan satu-satunya anggota keluarga Koeswoyo yang sampai hari ini masih aktif bernyanyi dengan membawa nama Koes Plus. Sepeninggal Tony Koeswoyo pada tahun 1987, Koes Plus sebagai grup musik praktis menyurut. Sejak itu Yon hidup dengan usaha jual-beli mobil. Dia juga mendapat penghasilan dari menyewakan rumah.
Mulai tahun 1993 terjadi semacam kebangkitan bagi Koes Plus. Saat itu Koes Plus tampil dengan formasi Yon, Yok, Murry, plus personel pendukung yang berganti-ganti dari waktu ke waktu. Yok bergabung untuk beberapa waktu sebelum kemudian mundur. Koes Plus terus bernyanyi digawangi Yon dan Murry plus dua pemain lain.
Koes Plus yang jaya pada era 1970-an itu, pada medio 1990-an bermain di kafe sebagai band yang dinikmati sebagai grup nostalgia. Akan tetapi diakui Yon, penampilan Koes Plus versi nostalgia itu menambah penghasilan yang berarti. Betapa tidak. Yon pada pertengahan 1990-an hidup pas-pasan. Ketika istrinya melahirkan, Yon tidak mempunyai uang sama sekali.
"Untuk membayar rumah sakit bersalin sebesar satu setengah juta rupiah aku harus meminjam uang...," cerita Yon dalam bukunya.
Sampai hari ini Koes Plus masih bertahan dengan Yon Koeswoyo sebagai satu-satunya personel "orisinal". Yon tampil dengan pemain muda yang berusia sekitar 25 tahun. Rasa Koes Plus masih terasa karena kebetulan suara Yon menjadi salah satu unsur pembangun karakter Koes Plus.
Dalam Koes Plus, suara Yon memang dominan meski Yok, Tony, dan bahkan Murry juga tampil sebagai penyanyi. Sekadar contoh, lagu Kolam Susu dilantunkan suara Yok. Suara Tony terdengar lewat Keroncong Pertemuan.
Vokal Yon mendominasi pada sebagian besar lagu kondang Koes Plus seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Diana, atau juga Hidup Yang Sepi. Kini, selain tampil dalam format Koes Plus, Yon juga tampil sebagai penyanyi tunggal lewat album Hanya Mimpi.
USIA Yon kini 64 tahun, tetapi penampilannya terkesan jauh lebih muda. Kata Yon, itu karena terbawa penampilan sang istri, Bonita, yang masih muda. "Tetapi, yang penting saya tidak pernah berpikiran bahwa saya sudah tua," kata Yon yang ditemui di rumahnya yang luas dan teduh di kawasan Pamulang, Tangerang, Banten.
Di rumah kebun seluas 2.500 meter persegi itu Yon setiap hari menyapu dan memotong rumput. Itulah yang konon membuat saraf dan ototnya bergerak dan hidup. Dia menjalani hidup dengan rasa syukur dan optimistis. Yon tidak terjebak pada sindroma kejayaan Koes Bersaudara atau Koes Plus. Sikap itulah yang menurut Yon membuat dirinya ayem.
Yon juga tidak meratapi nasib, misalnya tentang lagu-lagu ciptaan Koes Plus yang jika diukur dari royalti seharusnya memberi kesejahteraan para penciptanya. Dia memilih mengambil hikmah. Yang penting baginya lagu-lagu Koes Plus menghibur rakyat, meski penciptanya tidak mendapat penghargaan layak secara ekonomi.
"Saya yakin, seyakin-yakinnya, kalau lagu-lagu itu memang milik kami, maka walau diapa-apain, suatu saat nanti pasti akan kembali menjadi milik kami," kata Yon optimistis seperti lagunya:
Matahari kan bersinar, sayang/ Mendung kan tertiup angin...
Hujan pun akan berhenti sayang/ Alam pun akan berseri....